Sejak zaman dahulu, Desa Dungkek sudah dipimpin oleh kepala Desa di antaranya:
1. Limbang
2. Bahurekso atau dikenal dengan nama Rama Lok
3. Moh. Amir (1985-1992) ia meninggal sebelum masa jabatannya berakhir.
4. H. Mashuri (1992-2002) terpilih dalam dua periode, dan beliau mertua kepala Desa sebelumnya.
5. Tantawi H. Farid memimpin selama dua periode mulai tahun 2003-2015.
6. Jumahri memimpin mulai dari tahun 2015-sekarang.
Pada zamannya Buharekso struktur organisasi dalam memimpin Desa Dungkek dibantu oleh, Juru tulis dan Apel. Sedangkan pada zamannya Moh. Amir, kepala desa dalam menjalankan program Desanya dibantu oleh, Carik (Sekretaris Desa, 5 Kepala Dusun, 3 Kaur, dan 3 orang Kasi).
Perlengkapan lainnya pada tahun 1985 adalah Hansip, dan sekarang menjadi Limnas. Kemudian pada pemerintahnnya H. Mashuri kepala Desa mempunyai mitra kerja yaitu BPD (Badan Perwakilan Desa) sebanyak 15 orang dan pada pemerintahnnya Tantawi H. Farid dikurangi menjadi 9 orang, dengan 1 sekretaris BPD dan 1 stafnya, di tahun 2010 BPD mengambil sekretaris di dalam lembaganya sendiri.
Pada saat pemerintahan Jumahri membentuk karang taruna dan BUMDes di Desa Dungkek. hal ini merupakan sebuah terobosan pembangunan desa Dungkek untuk kesejahteraan masyarakatnya. BUMDes sendiri di kelola oleh pihak desa sendiri dengan berbagai macam hasil kreatifitas masyarakat Dungkek.
Desa Dungkek berawal dari sebuah cerita di mana pada zaman dahulu ada tukang batu (Maddhung) yang pekerjanya adalah orang Tionghoa keturunan (Singkek), sehingga masyarakat saat itu menyimpulkan karena orang yang macul saat itu adalah orang-orang Tionghoa maka disebutlah wilayah ini dengan nama Dungkek (se maddhung bato oreng singkek), pertama-tama orang Singkek tersebut bekerja dibagian utara (Daja), maka sampai saat ini jadi nama Dungkek Daja, karena tidak ada batu lagi di bagian Utara maka mereka pindah kebagian selatan sehingga sekarang tempat itu bernama Dusun Dungkek Laok.
Akibat batu yang terus menerus diambil
maka di sana terdapat sebuah bekas lubang, bekasnya tersebut berbentuk jurang
sehingga tempat itu menjadi Dusun Panjurangan, dan nama So’ongan berasal dari
daerah pesisir yang menjadi tempat pemujaan (Panyo’on). Sampai saat ini masih dapat menjumpai orang Singkek atau
orang Tionghoa, berikut pemakaman orang-orang terdahulu sebagai bukti awal
orang Singkek di Desa ini.
0 Komentar